Sleepaway Camp (1983)

Sleepaway-Camp-Poster

Sleepaway Camp diawali dengan scene seorang ayah dan anak yang terlindas kapal boat.  Angela merupakan satu-satunya orang yang selamat dalam peristiwa itu, saudara dan ayahnya tewas ditempat. Beranjak remaja, Angela dan sepupunya yang bernama Ricky akan mengikuti summer camp pertama mereka.  Sesampainya disana, Angela menjadi korban bully oleh teman-temannya, bahkan oleh konselornya sendiri yang bernama Meg.

Sleepaway.Camp_.Main-Reviewjpg-e1370695244901

Ricky selalu membantu dan melindungi Angela saat dia diganggu. Kejadian aneh pun mulai terjadi, satu per satu korban tewas bermunculan. Mereka yang tewas terbunuh adalah orang-orang yang menggangu Angela. Siapakah dalang dari semua ini? Apakah Angela? Gadis yang tak berdaya dan tak mampu melawan ketika dibully. Atau Ricky? Sepupunya yang selalu melindungi Angela. Atau justru Paul? Teman Ricky yang yang diam-diam menyukai Angela. Atau ada sosok lain yang tak senang melihat Angela selalu menjadi korban bully?

Sleepaway-camp-arrow

Tema slasher bukan menjadi hal yang baru di industri film 80-an. Ada banyak juga yang mengambil latar tentang perkemahan musim panas, which is my favourite Friday the 13th (1980), Summer Camp Nightmare (1987), Madman (1982), dsb. Sebenarnya tak ada yang baru tentang film-film berlatar summer camp ini, baik dari sisi cerita maupun plotnya. Mungkin yang membedakan antar film tersebut hanyalah adegan pembunuhan dan ending twist-nya. Meskipun bagi saya Friday the 13th masih menjadi juara dari banyak hal, tapi dari kategori ending, film inilah juaranya. FYI, film ini bahkan berkembang biak sampai menjadi 4 sekuel, tapi buat saya seri yang ini sudah lebih dari cukup.

rtscwireface

Hal yang cukup menarik perhatian adalah tentang karakter tokoh Angela. Felissa Rose memerankan tugasnya dengan cukup baik. Dia memiliki karakter yang tidak banyak bicara dan tugasnya sepanjang film hanya memandang lawan bicaranya dengan tatapan pucat, yang bagi saya dan teman saya yang menonton adalah hal yang sangat konyol. Film ini juga sangat kreatif dalam mengolah tiap death scenes-nya, dan sekali lagi membuat kami tertawa konyol, tapi tidak dengan endingnya, tawa kami terhenti. Anda tebak sendiri saja bagaimana kesimpulannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s